Selasa, 27 September 2011

Industri MANUFAKTUR | OTOMOTIF |

Industri MANUFAKTUR | OTOMOTIF |    Rabu, 28 September 2011 | 08:22  oleh Adisti Dini Indreswari PENJUALAN ALAT BERAT Penjualan alat berat akan ungguli pertumbuhan penjualan mobil dan motor Share dibaca sebanyak 21 kali 0 Komentar  JAKARTA. Dibanding mobil dan sepeda motor, industri pembiayaan alat berat punya prospek tumbuh paling pesat tahun depan. Hal ini ditopang oleh produksi alat berat di Indonesia yang terus menunjukkan perkembangan signifikan.  Asosiasi Industri Alat Besar Indonesia (Hinabi) memproyeksikan jumlah alat berat yang diproduksi secara keseluruhan tahun depan sebanyak 18.000 unit-20.000 unit. Dari jumlah itu, sekitar separuhnya yaitu 9.000 unit-10.000 unit akan diproduksi di Indonesia.  Sedangkan tahun ini, dari perkiraan jumlah produksi keseluruhan 17.000 unit-18.000 unit, sebanyak 6.500 unit-7.000 unit di antaranya diproduksi di Indonesia. Dengan kata lain, peningkatan produksi di Indonesia mencapai 38,5%.  Proyeksi pertumbuhan industri alat berat ini lebih tinggi dibanding sepeda motor dan mobil. Sebagai perbandingan, Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) masing-masing memproyeksikan pertumbuhan tahun depan 10,00% dan 8,75%.  Ketua Hinabi Pracoyo Dewo bilang, pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan yang tertinggi ketiga setelah China dan India. Jika di tahun 2000-an alat berat yang diproduksi di sini baru 40 ton, saat ini sudah bertambah menjadi 200 ton.  Pola yang ada di industri alat berat pun sudah mengalami pergeseran. Pracoyo menuturkan, sebelum krisis moneter tahun 1997, sektor konstruksi mengalami booming. "Untuk membangun jalan raya, pelabuhan, atau bendungan sekali mendatangkan alat berat bisa sampai ratusan unit," tutur Pracoyo di Jakarta.  Setelah pulih dari krisis, giliran sektor kehutanan yang menjadi tren karena kebutuhan pulp meningkat. Mulai tahun 2000-an, sektor pertambangan terlihat meningkat tajam.  Sektor pertambangan diprediksi masih mendominasi tahun depan, terutama dipicu oleh kenaikan harga maupun volume produksi batubara. Di sektor perkebunan, katalisnya adalah penambahan lahan baru sekitar 425.000 hektare (ha) meskipun harga jual crude palm oil (CPO) diramalkan cenderung stagnan.  Melihat prospek cerah di industri alat berat, tidak heran jika banyak pelaku industri pembiayaan yang melirik bisnis ini. Salah satunya adalah BII Finance Center. Presiden Direktur BII Finance Center Alexander bilang lini bisnis pembiayaan alat berat siap diluncurkan awal tahun depan.  Alexander mengaku tidak gentar menghadapi persaingan dengan perusahaan pembiayaan lain yang juga membidik alat berat. "Kan masing-masing punya segmen sendiri," ujarnya di Jakarta, Selasa.  Alexander mengaku belum mematok target tertentu di pembiayaan alat berat. Namun yang pasti, dia akan lebih dulu mendekati nasabah existing BII. "Pasar yang pertama akan didekati adalah pertambangan, karena pasarnya juga paling besar," pungkasnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Templates | Affiliate Network Reviews